Geografi Sosial Pertanian
ISBN :
Tanggal Terbit :
Keywords :
Geografi | Sosial | PertanianSinopsis :
Di balik hamparan sawah yang hijau dan ladang yang subur, tersimpan kisah tentang kekuasaan, identitas, dan perjuangan yang jarang terlihat oleh mata awam. Selama ini, pertanian kerap dipahami sekadar sebagai persoalan teknis, seperti benih unggul, pupuk yang tepat, atau saluran irigasi yang efisien. Buku ini mengajak pembaca melampaui cara pandang tersebut menuju pemahaman bahwa lanskap agraria adalah ruang yang dibangun secara sosial, tempat nilai budaya, relasi kuasa, dan kebijakan saling bertautan membentuk kehidupan jutaan manusia.
Perjalanan dalam buku ini dimulai dari jejak panjang peradaban pertanian dunia sejak manusia beralih dari tradisi berburu-mengumpul menuju bercocok tanam hingga sejarah pertanian Nusantara yang terekam dalam prasasti kerajaan serta sistem irigasi tradisional seperti Subak. Dari sana, pembaca diajak memahami batas tegas antara geografi sosial pertanian dan geografi pertanian konvensional, yaitu sebuah pergeseran fokus dari sekadar angka produktivitas menuju pertanyaan kritis: siapa yang sesungguhnya diuntungkan dari hasil panen?
Buku ini juga menghadapkan pembaca pada realitas krisis iklim yang mengguncang sektor pertanian. Kenaikan suhu, cuaca ekstrem, dan naiknya permukaan laut kini mengancam keberlanjutan pangan. Namun, di tengah tekanan tersebut, tumbuh harapan lewat inovasi sosial berbasis komunitas—mulai dari agroekologi, urban farming kolektif, hingga digitalisasi koperasi agraris abad ke-21.
Tak hanya berhenti pada aspek ekologis dan teknologis, buku ini menyelami kearifan lokal yang masih hidup, seperti kosmologi air, sistem penanggalan Pranoto Mongso, dan nilai-nilai sakral yang menjaga keseimbangan antara manusia dan alam. Di sisi lain, penulis membedah sisi kelam dunia agraria secara lugas: perampasan lahan, ekspansi perkebunan monokultur, benturan antara ketahanan dan kedaulatan pangan, ketimpangan gender dalam akses sumber daya, hingga masalah penuaan petani serta krisis regenerasi yang mengancam masa depan pedesaan.
Sebagai penutup, buku ini menyorot arena kontestasi kebijakan agraria dan tata ruang, termasuk perdebatan reforma agraria serta dampak Omnibus Law terhadap nasib ruang pertanian Indonesia ke depan.
Ditulis dengan pendekatan multidisiplin yang memadukan sejarah, ekologi, sosiologi pedesaan, dan kritik kebijakan, Geografi Sosial Pertanian hadir sebagai rujukan penting bagi akademisi, mahasiswa, praktisi, maupun siapa pun yang peduli terhadap keadilan spasial dan masa depan pangan yang adil serta berkelanjutan.